Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) dengan judul” Membangun Harmoni Dalam Keberagaman: Pentingnya toleransi Antar Umat Beragama di Vihara Vipassana Kusalacitta” telah terlaksana secara kondusif pada tanggal 24 Februari 2026 di Vihara Vipassana Kusalacitta Bekasi. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini menyoroti kehidupan dan struktur keagamaan di Vihara Vipassana Kusala Citta, yang berada di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia (STI). Vihara ini menjadi pusat aktivitas spiritual bagi umat Buddha bermazhab Theravada, di mana pembinaan umat dilakukan secara langsung oleh para pemuka agama yang disebut Biku atau Bhante. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, para Bhante menjalankan pola hidup yang sangat sederhana dan mematuhi 227 aturan kebikuan. Mereka tinggal di ruangan sederhana yang disebut Kuti, yang tidak difasilitasi dengan kemewahan seperti televisi atau kasur empuk, melainkan hanya tempat istirahat dasar untuk menjaga fokus dan kesederhanaan pikiran. Selain itu, para Bhante juga memiliki disiplin keseharian yang ketat, seperti larangan memegang uang secara langsung, tidak diperkenankan meminta makanan secara spesifik, serta batasan waktu makan yang hanya diperbolehkan sejak pagi hingga sebelum pukul 12.00 siang. Kesederhanaan dan disiplin ini menjadi keteladanan karakter yang kuat bagi umat yang dilayani di vihara tersebut.
Dalam aspek edukasi dan regenerasi, Vihara Vipassana Kusala Citta terbukti memiliki sistem pembinaan yang terstruktur bagi umatnya. Vihara menyediakan fasilitas multifungsi seperti Ruang Kelas Dhamma (Dhamma class) yang digunakan sebagai sarana pembelajaran dan diskusi agama bagi berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak TK, SD, SMP, hingga SMA melalui kegiatan Sekolah Minggu.
Upaya pembinaan karakter secara
berkesinambungan ini didukung oleh pembagian struktur organisasi umat yang
terdiri dari Romo untuk golongan pria dewasa, Wandani untuk wanita, dan Patria
(Pemuda Theravada Indonesia) untuk kalangan remaja dan pemuda. Vihara juga
mengedukasi umat melalui simbol-simbol historis yang kaya makna, seperti
keberadaan Pohon Bodhi yang menjadi simbol pencapaian pencerahan sempurna
Siddharta Gotama, serta pengenalan filosofi 28 Buddha yang pernah muncul, yang
diakhiri oleh Buddha Gotama pada era saat ini.
Sebagai bentuk implementasi nyata dari ajaran agama,
komunitas Vihara sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan yang melibatkan
masyarakat luas, yang mana hal ini sangat relevan dengan tujuan pengabdian
kepada masyarakat. Secara rutin setiap tiga bulan sekali, Vihara
menyelenggarakan bakti sosial yang mencakup kegiatan donor darah bekerja sama
dengan Palang Merah Indonesia (PMI) serta pengobatan gratis untuk masyarakat
umum. Lebih jauh lagi, vihara ini telah membuktikan peran sosialnya pada masa
krisis pandemi COVID-19 dengan membagikan pasokan oksigen, hand sanitizer,
hingga masker secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa
memandang latar belakang. Bahkan, terdapat tradisi lintas agama yang disebut
"serangan fajar", di mana para pemuda Vihara membagikan makanan
takjil dan makanan sahur kepada para pekerja malam seperti tukang ojek dan
tukang becak pada bulan suci Ramadan.
Seluruh aktivitas sosial, pembinaan, dan keharmonisan di atas tidak lepas dari landasan filosofis dan etika dasar yang diajarkan dalam agama Buddha. Seluruh pengabdian ini bermuara pada tiga ajaran inti Buddha: "Janganlah berbuat jahat, tambahlah kebajikan, dan sucikan hati serta pikiran". Ajaran tersebut diaplikasikan melalui penanaman sifat Metta (cinta kasih universal) dan Karuna (kasih sayang) dalam berinteraksi dengan sesama makhluk.
Selain itu, umat secara konsisten dilatih untuk menjalankan pengendalian diri melalui praktik meditasi (Samadi) serta penerapan Pancasila Buddhis, yaitu komitmen untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, kebohongan, serta konsumsi minuman yang memabukkan. Keselarasan antara teori agama dan praktik nyata di lapangan inilah yang menjadikan Vihara Vipassana Kusala Citta sebagai contoh komunitas yang berkontribusi positif bagi perbaikan dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi oleh mahasiswa IAI AL AZIS yang dipandu oleh Romo Poseng, Romo Tomo dan Romo Kurnia. Sesi ini berjalan dengan khidmat karena mahasiswa mendapatkan ilmu dan pemahaman baru yang belum pernah terlihat dan terdengar sebelumnya. Sebagai bentuk ucapan terima kasih mahasiswa IAI AL AZIS memberikan cindera mata berupa plakat yang diterima oleh Romo Poseng sebagai pengurus Vihara.




0 Komentar